Pages

NATAL, Beda Daerah Beda Tradisi


Sudah lama saya tidak membahas tentang Indonesia (setelah baca tulisan2 sebulan terakhir..hehe). Khusus di kesempatan menjelang Natal in saya ingin membagikan informasi tentang bagaimana tradisi kita masyarakat Indonesia dalam merayakan Natal. Sudah menjadi rahasia umum, Indonesia merupakan negara yang kaya dengan budaya dan tidak mengherankan jika setiap provinsi memiliki cara uniknya sendiri dalam merayakan Natal. Berikut beberapa di antaranya:

Sumatera Utara

 marhobas, membagi-bagi daging (seperti idul kurban)

Masyarakat Batak di Sumatera Utara mengenal tradisi bernama Marbinda. Tradisi khas dengan menyembelih seekor hewan bersama-sama di hari raya. Hewan yang disembelih merupakan hasil kesepakatan menabung bersama antara beberapa orang dari beberapa bulan sebelumnya. Biasanya mereka menyembelih Babi, bahkan jika patungannya banyak, mereka bisa menyembelih seekor Kerbau. Pada hari-H, mereka melakukan marhobas (pemotongan dan pembagian bersama) hewan tersebut. 


DKI Jakarta
rombongan keroncong

Kebiasaan unik terjadi di Kampung Tugu, tempat komunitas warga keturunan Portugis bermukim. Setelah kebaktian, warga berziarah ke kuburan yang terletak di samping gereja lalu menjalankan tradisi Rabo-Rabo, yaitu bermain musik keroncong dan menari bersama sambil keliling kampung untuk mengunjungi para fam. Uniknya, setiap penghuni rumah yang habis dikunjungi wajib mengikuti rombongan pemain keroncong sampai ke rumah terakhir. Puncak perayaan terdapat dalam tradisi mandi-mandi. Warga berkumpul di rumah sanak familinya, lalu mereka dengan serunya saling mencoret-coret muka satu sama lain dengan bedak putih sebagai simbol membersihkan kesalahan yang lalu menjelang tahun baru.


Yogyakarta

 Ibadah dengan iringan 1 set gamelan dan pakaian jawa lengkap

Yogyakarta merupakan daerah yang sangat kental dengan nuansa budayanya. Dan hal tersebut juga terlihat dari bagaimana pemimpin ibadah memimpin perayaan Natal. Seringkali pastor/pendeta memimpin ibadah dengan memakai baju beskap dan blangkon, memakai bahasa Jawa halus, lengkap dengan pertunjukan wayang kulit bertema "Kelahiran Kristus". Pada tanggal 25 Desembernya, ada tradisi saling mengunjungi (mirip seperti lebaran.) Tidak jarang anak-anak juga mendapat angpau pada saat silaturahmi. 

Bali
semarak natal di Bali

Komunitas pemeluk Kristen di Bali biasa merayakan Natal dengan pakaian khas daerah mereka: kebaya, selendang, kain kamen, dan destar. Warna yang biasa dipakai adalah hitam-putih. Pada masa perayaan Natal, kompleks gereja dihias dengan batang bambu yang dihias janur, sebuah ornamen khas Bali yang bernama Penjor.


Toraja

Karena kebanyakan masyarakat Toraya beragama Nasrani, setiap Natal, pemda Toraja mengadakan sebuah festival budaya dan pariwisata bertajuk "Lovely December". Festival ini dimulai sejak awal Desember (dibuka dengan pemotongan kerbau belang) dan mencapai puncak pada 26 Desember dengan arak-arakan yang disebut lettoan. “Lovely December" terbuka untuk semua orang, tidak harus yang Kristen. Momen ini kerap dimanfaatkan para perantau untuk pulang. Dalam festival khas Natal, pengunjung bisa menikmati karnaval, bazar natal, kontes kerbau, pentas-pentas seni, aneka acara adat, pameran kerajinan tangan, dan kuliner. Masyarakat setempat pun sibuk menghias rumah, kantor, dan gereja. 


Flores
menyalakan meriam

Natal di Flores identik dengan meriam bambu yang diledakkan nyaris di tiap sudut kota pada malam Natal. Anak muda biasa begadang semalaman pada 24 Desember sambil sesekali main kembang api dan minum moke (minuman khas Flores)


Ambon

 lonceng gereja

Yang paling menonjol dari Natalan di Ambon adalah bunyi sirine kapal dan lonceng gereja yang dibunyikan serentak pada tengah malam Natal (24 Desember). Momen ini juga identik dengan pertemuan keluarga besar di setiap keluarga di Ambon.


Papua

 tradisi bakar batu di Papua

Warga Papua memiliki tradisi pesta barapen atau bakar batu (sebuah ritual kuliner lokal untuk mengolah babi) sebagai ungkapan kebahagiaan Natal. Selain itu, di banyak tempat dipasang dekorasi bertema kelahiran Yesus, lengkap dengan lagu-lagu Natal yang diputar 24 jam.

Demikian beberapa tradisi Natal Khas Indonesia, semoga bisa menambah kesan Natal kalian yang membaca. Bagi yang tidak merayakannya, ya tidak apa-apa, sekalian menambah wawasan..hehe... Berbagi cerita..berbagi rasa...


T.ia
Sumber: www.anneahira.com
Gambar: saribudoloksilimakuta.wordpress.com, hurek.blogspot.com, torajacybernews.com, brendes.multiply.com, keuangan.petra.ac.id, pamburumasa.blogspot.com, kompas.com, okezone.com,

6 komentar:

Honeylizious Rohani Syawaliah mengatakan...

di tempatku nggak ada nih yang beginian :D

Punya.Tia mengatakan...

@honey: semoga menambah wawasan..hehe pengen ke papua nih.... biar bisa liat langsung tradisi bakar batu...hehe

Susan Lolo Bua mengatakan...

aku suku toraja, tapi gk pernh rayain Natal di toraja, berharap suatu saat bisa, dan ikuti acara Lovely Desember!! :)

Punya.Tia mengatakan...

hehee... didoain biar bisa pulkam deh..hehee

Kevin mengatakan...

Selamat Natal #sori telat.
bahas juga dong tradisi Natal di negara-negara Eropa yang bersalju :)

Punya.Tia mengatakan...

@kevin: hadoh..hadoohh... ntr taun depan ya..hehhee

Posting Komentar