Pages

Gaya Busana Pernikahan Adat Keraton Yogjakarta

Pemberitaan Indonesia hari-hari ini banyak sekali mengenai Pernikahan Putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X.  Tidak main-main, pagi, siang, sore, malam pasti ada saja pemberitaan dari pagelaran akbar Keraton Jogja tersebut. Ya, memang pernikahan tersebut adalah pernikahan yang unik. Disamping sakral karena tradisi Keraton Jogja sangat kental, pernikahan tersebut juga jarang kita temui atau lihat karena dari pesta Kerajaan. Rakyat biasa seperti kita, hanya bisa melihatnya di televisi. 

Dari rangkaian upacara sakral prosesi pernikahan Keraton, yang paling ingin dilihat adalah pakaian sang Pengantin. Ya, dimana pun, pasti sang Pengantin lah yang menjadi fokus utama dalam upacara pernikahan. Oleh karena itu, saya ingin mengulas sedikit mengenai Tata Rias Busana Pengantin Adat Jawa  Jogja yang identik dengan Keraton Jogja.

Memang, sebagai rakyat biasa, tentu tidak harus menggunakan pakaian khusus laykanya tradisi Keraton, tetapi tidak salah bagi kita untuk tahu lebih dalam mengenai Busana Pengantin adatnya kan…

Yang paling terkenal dalam pernikahan adat Jogja adalah Gaya Busana Jogja Paes Ageng atau Kebesaran.



Pengantin Jogja Paes Ageng menggunakan dodot atau kampuh lengkap denan perhiasan khusus. Busana ini dipakai saat upacara Panggih atau Resepsi. Pada wanita, Paes hitam dengan sisi keemasan pada dahi, rambut sanggul bokor dengan gajah ngolig yang menjuntai indah, serta sumping dan aksesoris unik. Pengantin prianya, memakai kuluk menghiasi kepala, ukel ngore (buntut rambut menjuntai) dilengkapi sisir dan cundhuk mentul kecil.


Selain Paes Jogja Ageng, ada Paes Ageng Jangan Menir.


Busana ini digunakan pada upacara Boyongan. Berbeda dengan Paes Ageng, Paes Ageng Jangan Menir tidak memakai kain kampuh maupun dodot. Pengantin pria memakai bahu blenggen dari bahan beludru berhias bordir, pinggang dililit selendang berhias pendhing, dan kuluk kanigara menutup kepala. Busana yang dikenakan adalah baju blenggen atau bordiran. Pengantin memakai kain bercorak cinde.

Yang ketiga adalah Jogja Putri. 


Busana ini seperti kebaya umumnya dan terlihat lebih sederhana. Pengantin wanitanya bersanggul gelung tekuk berhias cundhuk mentul (kembang goyang) serta untaian melati menjuntai di dada dengan busana menggunakan kebaya beludru panjang berhias sebuah bordir keemasan dan kain batik prada. Sedangkan Mempelai pria berbusana beskap putih dipadu bawahan kain batik prada serta blangkon penutup kepala.

Demikian ketiga busana pengantin yang biasa dipakai saat pernikahan adat Jogja. Semoga bermanfaat dan kita lihat besok Pengantin Keraton Jogja kita memakai busana yang seperti apa ya???
^^.


Gambar: lovejournal.widjanarti.com, holyweddingku.com, yangtakterganti.wordpress.com, 
 tomodiah.blogspot.com, attikahilma.blogspot.com, kapanlagi.com


 T.ia

3 komentar:

Susan Lolo Bua mengatakan...

haloo... aku terpegun membaca artikel ini... dlam pikiran *kira kira berapa ya biayanya? hehe *aku udah follow kamu :)

Punya.Tia mengatakan...

hahaaaaa.....

so pasti banyaaaaaakkk.... jd pengen punya pacar org jawa..hahhaa....

makasih yaa....

mishbahulmunir mengatakan...

salam kenal Tia dari kami Tim Poetrafoto Photography, Indonesia Wedding Photographer :)

Poskan Komentar